Kamis, 14 Mei 2009

Kauman Harus Dilestarikan

Melestarikan Nilai Sejarah Kota
Kawasan Wisata Kampung Batik Kauman di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasarkliwon, Kota Surakarta mulai direvitalisasi tahun ini. Pemkot telah membuat design engineering detail (DED) untuk rencana tersebut. Bagimana revitalisasi itu, berikut laporannya:KAMPUNG Kauman selama ini hanya dikenal masyarakat sebagai kampung batik saja. Padahal kampung seluas 20,1 hektare itu punya kaitan erat dengan sejarah Keraton Surakarta. Kauman semula adalah tempat atau kawasan bagi para ulama seperti tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan para kaum (ulama dan santri) yang merupakan penduduk mayoritas itulah yang kemudian menjadikan wilayah tersebut dikenal dengan nama kauman.Kampung Kauman mulai tumbuh pada tahun 1757, yakni ketika Paku Buwono (PB) III membangun Masjid Agung di kompleks Keraton Surakarta, di sebelah barat Alun-alun Lor Keraton Surakarta. Untuk penghulu masjid, PB III mengangkat tafsir anom yang dalam melaksanakan tugas dibantu para abdi dalem ulama lainnya, seperti ketib dan merbot. Selanjutnya, para abdi dalem ulama itu berikut para santri tinggal di sekitar masjid. Lalu berkembanglah kampung tersebut menjadi Kauman yang artinya kampung para kaum.Mesjid Agung dan wilayah sekitar semula adalah tanah milik keraton yang disebut pamijen. Sementara Kauman disebut mutihan atau pamethakan, yaitu wilayah yang hanya boleh dihuni kawula dalem beragama Islam. Setelah Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) terbit pada 24 September 1960, tanah-tanah swapraja atau bekas swapraja itu dihapus haknya dan beralih kepada negara. ’’Nah, setelah menjadi tanah negara, kemudian banyak permohonan dari warga Kauman untuk memiliki tanah-tanah yang ditempati itu,’’ kata sejarawan dari UNS Surakarta, Sudarmono SU. Kebutuhan KeratonPada awalnya para abdi dalem ulama yang tinggal di seputar masjid hanya abdi dalem saja dengan mengandalkan gaji dari pihak keraton. Sementara beberapa istri abdi dalem ada yang punya sambilan membatik di rumah. Hasil kerajinan batik itu juga untuk memenuhi kebutuhan keraton. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kerajinan batik tulis rumahan itu berkembang sebagai mata pencaharian utama yang mampu menaikkan taraf hidup mereka. Bahkan banyak yang berkembang menjadi industri.’’Dengan kenaikan taraf ekonomi itu pada awal 1800 hingga pertengahan 1900 warga Kauman mampu membangun rumah sekaligus pabrik yang megah dengan tembok tinggi menjulang,’’ paparnya.Keberhasilan usaha tersebut selanjutnya menarik minat para pendatang dari luar Kota Solo untuk tinggal di wilayah Kauman. Para pendatang itu juga menjadi kawula dalem dan bekerja memenuhi segala kebutuhan keraton. Mereka kemudian juga hidup berkelompok. Seperti para penjahit yang tinggal di Kampung Gerjen, pembuat makanan atau kue di Kampung Baladan, serta pembuat bordir di Kampung Blodiran. Dari situ kemudian muncul terjadinya perkawinan antarsaudara. (Langgeng Widodo-50)

KH Misbah Yang Terlupakan

Pengantar Biografi dan Perjalanan GerakanHaji Mohammad Misbach dilahirkan pada tahun 1879 di Kauman Surakarta, letaknya di sisi alun-alun utara. Achmad merupakan nama panggilan semasa kecilnya yang kemudian berganti nama menjadi Darmodiprono setelah ia menikah. Nama Mohammad Misbach merupakan nama setelah ia naik haji[2]. Orang tua Misbach tidak memiliki dasar keagamaan yang kuat[3], sedangkan Husni Hidayat berpendapat bahwa orang tua Misbach merupakan pejabat keagamaan kraton Surakarta[4]. Meskipun demikian, orang tuanya menyekolahkannya dalam pendidikan pesantren. Misbach juga sempat masuk sekolah Bumi Putera kelas dua selama 2 bulan.
Setelah dewasa, ia mengikuti jejak bapaknya, berdagang batik. Pada tahun 1914, Misbach meninggalkan usaha batiknya dan menggeluti dunia intelektual dan organisatoris dengan masuk menjadi anggota Indiansche Journalisten Bond (IJB) yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo[5]. Mas Marco menggambarkan pertemuannya dengan Misbach dalam tulisan berjudul Korban Pergerakan Rakjat: H. M. Misbach, dengan menggambarkan sosok Misbah bukanlah muslim yang terjebak pada simbol-simbol keagamaan, ia tak segan pula bergaul dengan yang lebih muda karena dimata Misbach tiada perbedaan antara manusia apalagi status kelas. Misbach tak segan pula mengkritik mereka yang mengaku Islam namun enngan untuk berjuang bersama rakyat dan hanya sibuk mengumpulkan harta benda.
Misbach merupakan seorang muslim ortodoks yang saleh, namun bergerak “setjara djaman sekarang” dengan menerbitkan Medan Moeslimin pada tahun 1915 dan Islam Bergerak pada 1917 yang pada mulanya merupakan respon terhadap diterbitkannya surat kabar Ksristen Mardi Rahardjo.; mendirikan Hotel Islam, toko buku dan sekolah agama modern[6]. Pada tahun 1918, kelompok Islam di Surakarta terpecah. Ini terjadi, karena artikel Marto Dharsono’dalam Djawi Hiswara, yang dituduh melecehkan Islam. Walaupun Tjokro Aminoto telah melakukan pembelaan terhadap Islam, melalui counter atas tulisan itu, namun kaum muda Surakarta tetap bangkit. Akhirnya Tjokroaminoto membentuk TKNM (Tentara Kanjeng Nabi Muhammad) pada awal 1918, yang mencuatkan nama Haji Misbach sebagai mubalighnya. Mengiringi terbentuknya TKNM, lahirlah perkumpulan tabligh reformis pimpinan Misbach, SATV (Sidik, Amanat, Tableg, Vatonah)[7].
Pada tanggal 20 April 1919, Misbach menggambar kartun di Islam Bergerak yang isinya menyinggung kapitalis Belanda dan Pakubuwono X, yang menghisap para petani dan mempekerja-paksakan mereka. Akibatnya ia ditangkap pada tanggal 7 Mei 1919. Namun, ia dibebaskan pada 22 Oktober 1919[8]. Misbach merupakan tokoh pergerakan Insulinde yang didirikan pada 16 Februari 1919 di kelurahan Nglungge. Misbach selalu mengutip ayat-ayat al-Qur’an sebagai basis propagandanya selama berada di insulinde. Hal ini menjadi ciri khas Misbach, sehingga ia tidak hanya dikenal sebagai aktivis pergerakan namun juga seorang mubaligh[9]. Insulinde afdeling sepanjang pergerakan tahun 1918-1920 berhasil memobilisir petani, meskipun memicu radikalisasi petani yang ternyata diluar kendali sehingga insulinde mendapat tekanan dari pemerintah. Meskipun demikian, insulinde menjadi pergerakan perkumpulan bumi putera terbesar meskipun pimpinan pusat tetap dipegang oleh orang indo[10].
Selama perjuangannya atas mobilisasi petani yang dilakukan oleh insulinde, Misbach dipenjara di Pekalongan yang kemudian dibebaskan pada 22 Agustus 1922. Koesen dalam Islam Bergerak menuliskan bahwasanya Misbach dan rekan-rekannya dipenjara bukan karena merampok, mencuri, menodong atau membunuh, tetapi justru karena mereka melawan pihak yang bertindak sewenang-wenang[11]. Hal ini ditulis Koesen sebagai pembelaan terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh Misbach dan rekan-rekannya. Pada tahun 1922 itu pula Misbach keluar dari Muhammadiyah, karena melihat Muhammadiyah dan SI yang mandul dan bersikap kooperatif dengan pemerintah. Penjara tidak kemudian membuat Misbach jera untuk memperjuangkan nasib rakyat, pada bulan Mei 1923 ia muncul sebagai propagandis SI Merah/ PKI[12] dan berbicara tentang pertalian yang mendasar antara Islam dan Komunisme[13].
Pada tanggal 20 Oktober 1923, Misbach kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi revolusioner yaitu pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Meski kemudian Misbach tidak terbukti terlibat dalam aksi-aksi tersebut, tetapi pemerintah Belanda tetap memutuskan Misbach untuk dibuang. Dalam pembuangan itulah istrinya meninggal karena penyakit Malaria. Dan Misbach meninggal pada 24 Mei 1926 di usia 47 tahun. Tjipto Mangunkusuma dalam surat kabar Panggoegah, 12 Mei 1919 melukiskan keberanian Misbach dalam melawan kolonialisme Belanda sebagai “seorang ksatria sejati” yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk pergerakan[14].
Sketsa dan Pokok Pemikiran1. Sketsa Perjalanan Pemikiran Misbacha. Misbach kecil hingga dewasa: Pertemuan dengan Gerakan (1879-1914: 35 tahun)Sebagaimana telah dipaparkan diatas, Misbach disekolahkan oleh orang tunya di pesantren. Hal ini menempatkannya memiliki kemampuan bahasa Arab. Dibanding tokoh-tokoh pergerakan sezamannya, Misbach tidak memiliki kemampuan lebih dalam bahasa Belanda. Basis pesantren serta lingkungan kraton Surakarta inilah yang kemudian mempengaruhi sosok Misbach nantinya menjadi seorang Mubaligh. Meski orang tunya menjabat sebagai pejabat keagamaan kraton, hal tersebut tidak membuat Misbach jauh dari persoalan-persoalan yang dihadapi oleh rakyat.
Meskipun tidak terdapat bukti literatur yang memperkuat keterlibatan Misbach dalam Serikat Dagang Islam dan Serikat Islam; namun terdapat akar persentuhan historis yang kuat mengingat pada tahun tahun 1991 dibentuk cabang SDI Bogor di Surakarta, sebagai reaksi terhadap menguatnya perdagangan Tionghoa[15]. Sebagai pengusaha batik, tentunya besar kemungkinan Misbach telah bersentuhan dengan wacana mengenai perselisihan serta garis perjuangan keberadaan Rekso Reomekso, SDI dan SI. Serta tidak terlepas dari kondisi sosial politik yang mengalami kemajuan intensitas perlawanan terhadap penjajah Belanda melalui bentuk strategi baru seperti terbitan-terbitan, rapat akbar, aksi/ demonstrasi dan juga organissi sebagai alat perlawanan[16].
Maka dalam masa perkenalannya dengan dunia aktivis pergerakan ini, mendorong Misbach untuk kemudian melibatkan diri secara penuh dengan bergabung dalam Indiansche Journalisten Bond (IJB) pada tahun 1914. Meskipun demikian, Misbach tetap tidak meninggalkan corak pemikirannya akan Islam yang banyak dipengaruhi olehsikapnya yang mudah bergaul dan diterima oleh lapisan masyarakat yang berbeda.
b. Gerakan Perjuangan Islam (1914-1919: 35-40)Selama rentang 1914-1919 atau 5 tahun periode kedua perjalanannya sebagai aktivis gerakan, tercatat bahwa Misbach pernah bergabung dalam Indiansche Journalisten Bond (1914), mendirikan Medan Moeslimin (1915( dan Islam Bergerak (1917), bergabung dalam Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (1918), pemimpin redaksi Medan Moeslimin menggantikan ketua TKNM pada saat itu yaitu Hisamzaijnie sekaligus membentuk Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) pada 10 Juli 1918[17].
Pada masa ini, Misbach banyak bergelut dalam perjuangan anti-Kristen. Ia berpandangan bahwasanya pemerintah berupaya untuk netral dalam hal agama, tetapi melindungi kapitalis belanda; sedangkan kapitalis belanda membantu misionaris Kristen. Dalam upaya misionaris Kristen tersebut, Misbach melihat bahwasanya terdapat banyak kecurangan serta upaya menjelekkan Islam oleh Kristen. Namun dilain sisi, Misbach juga mengkritik umat muslim kaya yang tidak membantu rakyat miskin dengan hartanya. Tidak pula membantu perjuangan yang dilakukan oleh rakyat baik secara organisatoris ataupun dalam upaya membendung kristenisasi[18].
Kritikan Misbach terhadap muslim tersebut sangat kental dalam kritikannya terhadap kebijakan Tjokroaminoto yang menetapkan disiplin partai, bahwa anggota SI tidak boleh terlibat dalam organisasi lain. Kemunculan disiplin partai terkait adanya tarik menarik pengaruh antara Tjokroaminoto dengan Semaoen pada Konggres SI ketiga pada 29 Oktober 1918[19]. Sehingga dikalangan SI, bermunculan berbagai tafsiran atas hubungan antara Islam dan Komunisme.
Misbach menyadari bahwasanya terdapat kaitan erat antara keberadaan misionaris kristen dengan pemerintah dan kapitalis belanda. Sehingga perjuangan hak-hak rakyat, tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Islam sebagai agama yang menolak adanya penindasan. Akhirnya pada tanggal 20 April 1919, Misbach menggambar kartun di Islam Bergerak yang isinya menyinggung kapitalis Belanda dan Pakubuwono X, yang menghisap para petani dan mempekerja-paksakan mereka. Akibatnya ia ditangkap dan dipenjara untuk pertam akali pada tanggal 7 Mei 1919.
c. Perjuangan dan Gerakan Islam Revolusioner (1919-1926: 40-47)Misbach aktif dalam gerakan-gerakan mobilisir rakyat, terutama petani dan buruh. Keterlibatannya memberikan nuansa tersendiri, karena ia dikenal sebagai orang yang tetap teguh menyampaikan dalil-dalil al-Qur’an dalam ranah perjuangannya. Misbach lebih memilih organisasi tempat dimana ia berjuang, berdasar pada pola geraknya. Itulah sebabnya ia tidak lagi aktif di Muhamamdiyah serta SI yang dipandangnya terlalu kooperatif dan lunak terhadap pemerintah, dan memilih untuk bergabung dengan PKI yang lebih revolusioner dalam memperjuangkan hak rakyat. Meski pada awalnya, terdapat pula pertentangan mengenai Muhamamdiyah sebagai Islam Kapitalis dan SI sebagai Islam sama rata sama rasa[20]. Dan saat Misbach dipenjara, pada Maret-Juli 1922 terdapat pertikaian antara Islam Bergerak dan Muhammadiyah.
Misbach dibebaskan dari penjara di Pekalongan pada 22 Agustus 1922, setelah dipenjara selama dua tahun tiga bulan[21]. Pada konggres PKI tanggal 4 Maret 1923 yang dihadiri 16 cabang PKI, 14 cabang SI Merah dan beberapa perkumpulan serikat komunis, Misbach memberikan uraian mengenai relevansi Islam dan komunisme dengan menunjukkan ayat-ayat al-Qur’an serta mengkritik pimpinan SI Putih yang munafik dan menjadikan Islam sebagai selimut untuk memperkaya diri sendiri. Pada tahun 1923 pula Misbach menulis kritikannya terhadap Tjokroaminoto di Medan Moeslimin dengan judul “Semprong Wasiat: Disiplin Organsisi Tjokroaminoto Menjadi Racun Pergerakan Rakyat Hindia”.
Misbach muncul sebagai pimpinan PKI di Surakarta, yang kemudian merubah Islam Bergerak menjadi Ra’jat Bergerak dan penyatuan secara de fakto organ PKI Yogyakarta berbahasa Melayu, Doenia Baroe, ke dalam Ra’jat Bergerak pada September 1923[22]. Pada tanggal 20 Oktober 1923, Misbach kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan terlibat dalam aksi-aksi revolusioner yaitu pembakaran bangsal, penggulingan kereta api, pemboman dan lain-lain. Dan meninggal pada 24 Mei 1926 selama di pengasingan.
2. Pokok Pemikiran Misbacha. Islam sebagai Petunjuk dan KeselamatanMisbach mendefinisikan agama sebagai petunjuk Tuhan yang bersifat kuasa untuk seluruh umat manusia. Islam berarti keselamatan dan menjadi agama Islam merupakan penunjuk jalan yang menuntut keselamatan (Misbach, 1924:35)[23]. Bahkan lebih jauh lagi, seorang muslim tidak mungkin hidup terbelah antara aqidah, hati nurani dan imannya dalam satu segi, dengan kehidupan dalam praktek sosialnya disegi lainnya. Dan untuk mencapai penyebaran Islam tersebut, Misbach tidak ragu-ragu untuk mengajak orang-orang mukmin melakukan perang[24].
Sesuai dengan nama jurnalnya Islam Bergerak, Misbach berpandangan bahwa diperlukan bersatunya kata dengan perbuatan. Bahkan Misbach mengidentikkan perjuangan muslim progresif sebagai Islam Sejati[25]. Karena didalam Islam terdapat anjuran untuk menegakkan keadilan, kebenaran, kemanusiaan dan sebagainya yang harus diterapkan melalui politik dan sosial. Misbach memperjuangkan semangat religius untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan.
Perbedaan dalam agama menurut Misbach hanya dalam namanya saja, karena setiap agama diturunkan melalui rasul yang berbeda-beda. Seperti Nabi Adam, agamanya disebut agama Adam (Misbach, 1925: 34-35)[26].
b. Komunisme sebagai GerakanKomunisme menurut Misbach merupakan gerakan mewujudkan masyarakat tanpa kelas, masyarakat “sama rata sama rata”[27]. Menurut Misbach, yang dia kutip dari Marx, kemiskinan itu disebabkan adanya penghisapan dari kapitalisme. Mesin penggerak kapitalisme, atau spirit kapitalisme, adalah ketamakan. Tetapi, pengisapan dan penggerak kapitalisme adalah uang. Bahkan dalam menyerang Tjokroaminoto dan SI Putih umumnya, Misbach menyebutkan bahwa uang telah membutakan mereka untuk berjuang sebagai muslim sejati[28].
Apa yang Misbach pelajari dari komunis, terutama tulisan Semaoen, tidak sekedar memahami bahwa pelaku kejahatan adalah kapitalisme. Ia juga mendapatkan bagaimana dan mengapa kapitalisme secara bersama-sama menghancurkan manusia baik fisik maupun mental
Daftar Pustaka
Hidayat, Husni. 2005. Haji Misbach; “Kyai Merah” dari Surakarta. Edisi XXIII: http://afkar.numesir.org.Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Hiqmah, Nor. 2000. H. M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya. Yogyakarta: Litera.Tauhid, Abdi. 2000. Islam, Sesungguhnya Kiri. Dari: apakabar@saltmine.radix.netRio, Adde. 2006. Adakah Perbedaan Akaran Komunis dan Islam?. Dari: indo-marxist@yahoogroups.com.Soerojo, Soegiarso. 1988. Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai.. Jakarta: Intermasa.
Endnote1 Penulis adalah Ketua IMM Kom. Muh. Abduh. Disampaikan dalam diskusi pada Ahad, 7 Januari 2007 pukul 14.00 WIB, menyambut kelahiran ‘putra’ IMM Sukoharjo yaitu IMM Kom. H. M. Misbach.2 Nor Hiqmah. 2000. H. M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya. Yogyakarta: Litera, hlm. 1.3 Nor Hiqmah, Ibid., hlm. 1 dan Takashi Shiraishi. 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti hlm. 173.4 Husni Hidayat. 2005. H. M. Misbach: “Kyai Merah” dari Surakarta. http://afkar.numesir.org5 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 2. Husni Hidayat mengemukakan bahwa Misbach telah aktif dalam organisasi pada tahun 1912 ketika SI berdiri, kemudian aktif dalam JIB yang dibentuk oleh SI pada 1914.6 Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 175.7 Husni Hidayat, Op.Cit.8 Ibid.9 Zohroh, 1997:29-30 dalam Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 4.10 Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 186-187.11 Koesen, 20 Juni 1919. Sebabnja ditahan pendjara. Surakarta: Islam Bergerak dalam Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 226.12 ISDV (Indische Sociaal Demokratische Vereeniging) merupakan suatu organisasi Marxist pertama di Asia Tenggara yang didirikan Mei 1914 di Semarang, yang kemudian pada 23 Mei 1920 mengubah nama menjadi PKI (Perserikatan Komunis India) di bawah pimpinan Semaun. Pada saat itu, Semaun juga merangkap sebagai ketua SI cabang Semarang. Lebih lanjut baca Soegiarso Soerojo, 1988, Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai, Jakarta: Intermasa, hlm. 33-35. Menurut Takashi, Op.Cit., hlm. 115, ISDV didirikan oleh Henk Sneevlit pada Mei 1915.13 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 4.14 Ibid., hlm. 5. dan Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 38415 Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 56-57. Terdapat kerancuan penanggalan dalam beberapa literature baik dalam tulisan Takashi maupun Nor Hiqmah, mengenai keberadaan dan latar belakang hadirnya SDI dan SI di Surakarta. Takashi menyebutkan bahwa SDI di surakarta merupakan cabang dari SDI Bogor, yang sebenarnya dalih dari Rekso Roemekso kepada pemerintah yang didirikan oleh Haji Saman Hudi awal 1912, ketika terdapat perkelahian antara orang-orang Jawa dari Roemekso dengan Tionghoa pada akhir bulan 1911 dan awal 1912.16 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 11.17 Takashi, Op.Cit., hlm. 184.18 Ibid.19 Nor Hiqmah, Ibid., hlm. 17-18.20 Ibid., hlm. 22-23.21 Takashi, Op.Cit., hlm. 343.22 Ibid., hlm. 374.23 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 27.24 Ibid. hlm. 29.25 Abdi Tauhid, 2000, Islam, Sesungguhnya Kiri, didapatkan dari: apakabar@saltmine.radix.net26 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 50.27 Nor Hiqmah, Op.Cit., hlm. 25..28 Takashi Shiraishi, Op.Cit., hlm. 365.

Rabu, 13 Mei 2009

Sememen


NAMA Kauman, bisa jadi ada di semua daerah di tanah Jawa ini atau bahkan di Indonesia. Namun sejarah tentang nama-nama itu jelas akan berbeda satu sama lain. Begitu juga nama Kauman di Solo, yang persis berada di dekat Masjid Agung Solo. Nama Kauman tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan Keraton Kasunanan Solo, sekaligus pendirian Masjid Agung sekitar tahun 1757 Masehi pada masa Sinuhun Paku Buwana III. Pada masa itu, Kauman memang merupakan sebuah daerah khusus yang disebut bumi mutihan atau pametakan, yakni wilayah yang hanya dihuni kawula dalem khusus yang beragama Islam. Sebagai pemimpinnya kala itu Sinuhun PB III menunjuk Kanjeng Kiai Pengulu (KKP) Mohammad Thohar Hadiningrat.
Sejarah mencatat, KKP Mohammad Thohar Hadiningrat dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Ketib atau Khotib, yang bertugas memberikan ceramah atau khotbah Jumat dan iman salat lima waktu. Kemudian Modin dibantu Qoyim, bertugas memukul bedug sebagai tanda waktu salat wajib, tukang mengumandangkan azan dan sebagai juru nikah serta hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Yang terakhir Merbot, bertugas sebagai tukang bersih-bersih, mengelola kebersihan masjid, penyedia air, serta perkakas salat masjid.
Sebagai kampung bentukan raja yang mempunyai simbol sebagai Sayidin Panatagama, Kauman memang dikenal sebagai kampung santri hingga sekarang. Bahkan hal itu dikuatkan dengan adanya naskah nomor 86 B UU Tahun 1777 M, bagi para buruh dan para orang yang tinggal di sana atas izin Sinuhun PB IV menegaskan, bahwa di kampung itu dilarang keras untuk berbuat maksiat serta membunyikan gamelan pada saat hajatan. ”Jika ada yang melanggar, maka akan dihukum membersihkan serambi dan halaman Masjid Agung selama 40 hari," kata pemerhati budaya KRAT Mufti Rahardjo.
Jika ada yang berani melanggarnya sampai dua kali lanjut dia, maka akan diusir dari kampung Kauman. Namun apabila tetap membandel belum mau pergi dari kampung itu, Raja yang akan bertindak.
Yakni menangkap dan memenjarakannya dan tidak akan dibebaskan sebelum orang itu pindah dari kampung tersebut. Karena orang itu dianggap telah merusak agama Rasul Muhammad SAW.
Masjid SememenSebagai sebuah salah satu kampung tua yang ada di Solo, Kauman menyisakan eksotisme jejak masa lalu yang perlu dilestarikan keberadaannya. Karena kawasan itu terdapat bangunan saksi sejarah yang menandai adanya peristiwa tentang keistimewaan kampung itu.
Salah satu yang dimiliki Kauman adalah peninggalan masjid dan langgar yang bangunannya memiliki ciri khas yang tak bisa dipisahkan dengan bangunan keraton Kasunanan Solo, yakni Jawa klasik. Perpaduan antara gaya Eropa abad pertengahan dengan gaya Jawa yang sarat dengan kayukayu berukir.
Di Kauman sendiri, masih banyak sejumlah bangunan dan langgar peninggalan masa lalu yang masih utuh dan terawat. Salah satu peninggalan yang masih bisa disaksikan adalah masjid Sememen yang dulu difungsikan sebagai langgar. Merupakan peninggalan dari Ketib atau Khotib Sememi.
Seorang tokoh pengulu agama bergelar Kanjeng Kiai Pengulu (KKP) Tapsir Anam yang makamnya di Pajang satu kompleks dengan makam para pengulu lain dari Kauman.
Masjid Sememen, semula merupakan tanah wakaf dari Ketib Sememi ini. Dibangun tahun 1890 Masehi. Dengan bangunan bergaya Indies Jawa klasik.
Yang cukup menarik dari masjid ini, selain arsitekturnya yang masih asli, menara masjid yang tak begitu tinggi di sebelah kanan masjid itu sangat mirip dengan menara Panggung Sangga Buwana yang dimiliki keraton Kasunanan. Berbentuk heksagonal yang memiliki arti arah mata angin dan empat unsur alam, yakni air, angin, api dan tanah.Kampung Sememen memang menjadi satu bagian tak terpisahkan dari sejarah Kauman. Karena di kampung itu pula terdapat sebuah bangunan sekolah yang diberi nama Nahdlatul Muslimat (NDM). NDM merupakan sebuah organisasi pergerakan kaum wanita yang berdiri tahun 1931 di Solo

Rabu, 06 Mei 2009

SUGENG RAWUH


Kampung Kauman mempunyai kaitan erat dengan sejarah perpindahan kraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama Kauman.
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari dalam Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton. Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman. Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.
Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Disamping produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.Sampai saat ini para pengusaha batik di Kampung Batik Kauman tetap meneruskan apa yang dilakukan pendahulu mereka, yaitu nguri-uri warisan budaya bangsa yang bernilai tinggi dengan tetap memproduksi batik pakem , batik tradisional yang bernilai cita rasa tinggi, kaya motif dan sarat makna filosofis harapan dan doa pada Allah SWT. Disamping itu mereka juga tetap mengembangkan karya baru dengan mengeksplorasi motif batik kontemporer untuk menyesuaikan dengan dinamika perkembangan jaman